Mengapa aku tulis judul seperti itu? Bukankah itu yang sering dikatakan orang?
Well, iam not really understand enough actually, buat setelah satu bulan menanggalakan toga itu, rasanya bulan ini aku mulai mengerti kalimat itu. Kebingungan sarjana s1 setelah sarjana adalah tentang 3 hal. Kerja, s2 atau menikah. Tak jauh dari ketiga hal itu.
Dari semua fenomena yang kawan-kawan jursanku alami, banyak dari mereka yang langsung bekerja, tak banyak yang langsung melanjutkan s2, apalagi menikah. Well, dengan berbagai link dan jaringan yang ada, belum wisuda pun aku dipercaya untuk mengurusi sbuah project oleh salah satu jaringan organisasiku yang insya allah akan terwujud di bulan Februari 2016 kelak. Kesibukan memang tak berubah tapi yang berbah adalah supply dana. Ya. LPJ sarjana sudah tutup buku secara resmi, sejak wisuda di gelar. Terputuslah jaringan rekeningku dan donatur terbesar dalam hidupku, yaitu ibu. Inilah hutan yang sesngguhnya kawan.
Bagaimana usaha kau bertahan hidup di hutan belantara ini, tanpa sokongan dari siapapun. Kawanku yang mendapat kerja kantoran pun juga pernah bilang, setelah kita memegang uang, bukannya bisa foya-foya, tapi malah makin perhitungan mengeluarkan uang. karena tahu betapa lelahnya mencari mungkin ya.
Lagi-lagi jaringan, dan kawan-kawan aktifislah yang banyak memberi jalan. entah itu menjadi notulensi seminar, ataupun koordinator survey bayaran. Yang penting bisa buat ongkos gojek dan makan.
well, bukan kegelisahan itu yang ingin kubagi sebenarnya, karena memasuki tahun baru ini, agendaku sudah banyak yang harus dikerjakan, jadi masalah uang, kita pinggirkan lebih dahulu. Kita bahas masalah passion, impian, dan kesejatian hidup.
Semester akhir pasti bermasalah dengan skripsi. Setelah wisuda, pasti beda lagi masalah yang dihadapi. itu lagi-lagi sebuah fase pergantian kehidupan. satu fase berakhir happy ending, awal fase lain yang dimulai dengan masalah. begitu seterusnya. Sampai kita tidak akan mengalami masalah agi di dunia ini, alias mati.
Dan mengenai passion dan impian, kufikir saat ini, ia tidak akan pergi dan lari kemana-mana, apalagi ketika kau meninggalkannya untuk belajar arti kata ketulusan dan pengabdian hidup. Nah ini agak memetaforakan pengalamanku sendiri saat ini. Yang harus dilakukan sekarang adalah mengerjakan tanggungjawab yang Tuhan berikan.
Ya rasanya ada yang berbeda. Jelas, prinsip ini sangat berbeda dengan prinsipku 4 tahun yang lalu tentang impian dan cita-cita. JIka dulu kufikir impian dan cita-cita adalah tujuan akhir. sekarang ternyata mlai berubah.
Berbicara masalah mimpiku, ahamdulillah 2015ku berakhir sesuai rencana. Aku kembali ke Malaysia, aku Lulus Sarjana, aku jadi panitia konferensi internasional, aku bertemu dan lebih mengenal orang-orang baru dan orang-orang lama. Hanya beberapa dari target 2015, termasuk bertemu dengan si dia. :D
Artinya apa? aku sedang sangat belajar memahami bahwa, hidup ini adalah pilihan kita. mungkin lebih spesifiknya bisa dikerucutkan dengan, pilihan perjuangan atau pilihan pengendalian. Tentu perjuangan akan terasi lebih berat dibanding pengendalian. Karena dalam perjuangan pasti lebih banyak terdapat pengorbanan. mengorbankan yang disukai, mengorbankan yang dicintai, mengorbankan yang org lain sukai, bahkan mengorbankan keinginan seluruh orang.
Kita hanya bisa memilih yang mana tujuan dan jalan kita. tujuan kita bisa sama, tapi jalannya yang berbeda-beda. Oh lagi-lagi ini mungkin teguraanmu, dan peringatanmu padaku, untuk lebih berhati-hati berkata tulus dan ikhlas, karena ketika aku sendiri yang diuji, aku merasa sangat berat mendefinisikan, menerjemahkan, serta mengamalkannya.
Yang aku yakini adalah, yang aku kerjakan sekarang adalah banyak berhubungan dengan kalam-kalamMu. Maka Ya Tuhan kumohon sangat sekali padamu, jangan biarkan hatiku, setitik saja ternodai kotor oleh perasaan-perasaanku sendiri yang tidak bisa mengendalikan nafsunya.
Ya, ini adalah pilihan, namn bukan final. untuk meramal hari esok aku tak mampu, bahkan 5 menit lagi pun aku tak tahu. jadi aku berusaha mencoba untuk menyerahkannya padaMu.
Sang Maha Pemberi Ganti.
Cibinong, 1 Januari 2016
Happy Graduation!!! Welcome to the Jungle!"
Well, iam not really understand enough actually, buat setelah satu bulan menanggalakan toga itu, rasanya bulan ini aku mulai mengerti kalimat itu. Kebingungan sarjana s1 setelah sarjana adalah tentang 3 hal. Kerja, s2 atau menikah. Tak jauh dari ketiga hal itu.
Dari semua fenomena yang kawan-kawan jursanku alami, banyak dari mereka yang langsung bekerja, tak banyak yang langsung melanjutkan s2, apalagi menikah. Well, dengan berbagai link dan jaringan yang ada, belum wisuda pun aku dipercaya untuk mengurusi sbuah project oleh salah satu jaringan organisasiku yang insya allah akan terwujud di bulan Februari 2016 kelak. Kesibukan memang tak berubah tapi yang berbah adalah supply dana. Ya. LPJ sarjana sudah tutup buku secara resmi, sejak wisuda di gelar. Terputuslah jaringan rekeningku dan donatur terbesar dalam hidupku, yaitu ibu. Inilah hutan yang sesngguhnya kawan.
Bagaimana usaha kau bertahan hidup di hutan belantara ini, tanpa sokongan dari siapapun. Kawanku yang mendapat kerja kantoran pun juga pernah bilang, setelah kita memegang uang, bukannya bisa foya-foya, tapi malah makin perhitungan mengeluarkan uang. karena tahu betapa lelahnya mencari mungkin ya.
Lagi-lagi jaringan, dan kawan-kawan aktifislah yang banyak memberi jalan. entah itu menjadi notulensi seminar, ataupun koordinator survey bayaran. Yang penting bisa buat ongkos gojek dan makan.
Satu yang membuat lega setelah menanggalkannya. Ada organisasi yang jaringannya siap memelukmu kapan saja.
well, bukan kegelisahan itu yang ingin kubagi sebenarnya, karena memasuki tahun baru ini, agendaku sudah banyak yang harus dikerjakan, jadi masalah uang, kita pinggirkan lebih dahulu. Kita bahas masalah passion, impian, dan kesejatian hidup.
Semester akhir pasti bermasalah dengan skripsi. Setelah wisuda, pasti beda lagi masalah yang dihadapi. itu lagi-lagi sebuah fase pergantian kehidupan. satu fase berakhir happy ending, awal fase lain yang dimulai dengan masalah. begitu seterusnya. Sampai kita tidak akan mengalami masalah agi di dunia ini, alias mati.
Dan mengenai passion dan impian, kufikir saat ini, ia tidak akan pergi dan lari kemana-mana, apalagi ketika kau meninggalkannya untuk belajar arti kata ketulusan dan pengabdian hidup. Nah ini agak memetaforakan pengalamanku sendiri saat ini. Yang harus dilakukan sekarang adalah mengerjakan tanggungjawab yang Tuhan berikan.
Ya rasanya ada yang berbeda. Jelas, prinsip ini sangat berbeda dengan prinsipku 4 tahun yang lalu tentang impian dan cita-cita. JIka dulu kufikir impian dan cita-cita adalah tujuan akhir. sekarang ternyata mlai berubah.
Bagiku, mimpi itu ibarat puncak mercusuar, yang akan menunjukkan arah kepada tujuan akhir.Oleh sebab itu, aku dan kita masih perlu dan harus untuk memilikinya. Karena ia adalah perwujudan optimisme, harapan dan alasan semua manusia untuk melanjutkan hidup.
Berbicara masalah mimpiku, ahamdulillah 2015ku berakhir sesuai rencana. Aku kembali ke Malaysia, aku Lulus Sarjana, aku jadi panitia konferensi internasional, aku bertemu dan lebih mengenal orang-orang baru dan orang-orang lama. Hanya beberapa dari target 2015, termasuk bertemu dengan si dia. :D
Kita boleh tersesat dijalan, asal jangan tersesat dalam tujuannya.
Artinya apa? aku sedang sangat belajar memahami bahwa, hidup ini adalah pilihan kita. mungkin lebih spesifiknya bisa dikerucutkan dengan, pilihan perjuangan atau pilihan pengendalian. Tentu perjuangan akan terasi lebih berat dibanding pengendalian. Karena dalam perjuangan pasti lebih banyak terdapat pengorbanan. mengorbankan yang disukai, mengorbankan yang dicintai, mengorbankan yang org lain sukai, bahkan mengorbankan keinginan seluruh orang.
Kita hanya bisa memilih yang mana tujuan dan jalan kita. tujuan kita bisa sama, tapi jalannya yang berbeda-beda. Oh lagi-lagi ini mungkin teguraanmu, dan peringatanmu padaku, untuk lebih berhati-hati berkata tulus dan ikhlas, karena ketika aku sendiri yang diuji, aku merasa sangat berat mendefinisikan, menerjemahkan, serta mengamalkannya.
Yang aku yakini adalah, yang aku kerjakan sekarang adalah banyak berhubungan dengan kalam-kalamMu. Maka Ya Tuhan kumohon sangat sekali padamu, jangan biarkan hatiku, setitik saja ternodai kotor oleh perasaan-perasaanku sendiri yang tidak bisa mengendalikan nafsunya.
Ya, ini adalah pilihan, namn bukan final. untuk meramal hari esok aku tak mampu, bahkan 5 menit lagi pun aku tak tahu. jadi aku berusaha mencoba untuk menyerahkannya padaMu.
Sang Maha Pemberi Ganti.
Cibinong, 1 Januari 2016
Lets Keep Write. Write your ideas, your opinion your stress, your pressure, your desire, your sadness, your disappointed, your mind. All about your emotion. Just keep Writing!
Memasuki minggu pertama di bulan Agustus, rasanya semuanya berlalu begitu cepat memisahkan kita dengan Ramadhan, memisahkan kita dengan Lebaran. Memisahkan kita dengan hiruk pikuk percakapan banyak orang. Memasuki bulan pertama di semester akhir semester 9, yang mau tidak mau, November ini harus menjadi bulan terakhirku di tanah Ciputat, membuat setiap pergantian malamnya terasa berjalan sangat lambat dan menegangkan. Setiap pergantian anak tangga, kaki selalu menekan lebih keras, ketikaia semakin tinggi, topangan kaki pun semakin lebih hebat. Begitu juga setiap pergantian fase kehidupan. tekanan yang manusia lalui terasa semakin berat dan semakin terhimpit. Semua orang dipaksa melalui hidup yang seragam fasenya, meskipun tidak dikehendakinya.
Well, fase kehidupan setelah kuliah ini semakin beragam. kita bukan lagi anak pondok ingusan yang bau kencur tak mengerti dunia luar. Kita malah semakin mengerti dunia dan ingin menutup diri dari peredaran. Loh kok begitu? Ribuan pencapaian orang berlalu lalang di sosial media beredar, menyebarkan motivasi, inspirasi, juga menebar kesirikan dan keputus asaan.
Dari ribuan keinginan yang tertular, mungkin harus diredifinisikan lagi apa yang sebenarnya kita butuhkan dan kita mampu lakukan dalam tataran realita namun dngan tidak "biasa-biasa" saja.
Ya. Begitulah setiap ahli tercipta. Mereka memaksimalkan karunia yang Tuhan berikan pada dirinya semaksimal mungkin dengan tidak "biasa-biasa"saja. Bidangnya, tidak bisa kita seragamkan.. Tidak juga bisa kita banding-bandingkan. Yang seharusnya adalah kita kombinasikan.
Hi. Last semester. Girls. little Smart.
Dari empat kata diatas, can you imagine how her future?
Ya, lagi-lagi sosial media menjadi sumber utama, fikiran-fikiran kita yang tidaknyata, sirik menyirik pada orang yang bahkan berkenalan pun sama sekali belum. Well, Be your own-own -own self. Kalau setiap orang bermimpi menjadi seperti orang lain, maka tak akan ada kebenaran.
Ya kebenaran. Menjujuri diri sendiri. memeahami diri sendiri. dan percaya pada diri sendiri. Percaya pada qualitas diri dengan tetap menjunjng tinggi kualitas kehidupan yang lain.
Untuk target kedepan terdekat, mengapa aku lebih tertarik naik haji atau umrh dibanding ke laur negeri, meskipun kesempatanya datang ribuan kali.
Dan lagi-lagi untuk sekarang, mengapa aku lebih tertarik anjuran menikah oleh nenekku dibanding mengejar s2 ke luar negeri meskipun hal itu sangat mampu aku lakukan.
Mengapa aku membayangkan akan lebih memilih mengajar santri-santriku dibanding ikut calon-calon pemilihan pemimpin?
Ya lagi-lagi ini soal kadar kebahagiaan. Bahwa diriku terdidik, hidup bukan untuk terus menerus membahagiakan diri sendiri, tapi mengutamakan keinginan orang lain...
Mungkin terlihat sederhana dan biasa-biasa saja, sangat berbeda dengan moto ku diatas. Mungkin bahkan terlihat sederhana dan tidak bernilai sama sekali.
Tapi teernyata ada yang menyilaukan dibalik topeng itu semua, yakni bersinarnya hati, bersihnya ketulusan untuk memberi, serta keikhlasan dalam mengabdi.
Mengabdi adalah kunci kehidupan dari semua kunci. Pangkal semua kegiatan di dunia ini. Begitu tutur Ibu Nyai padaku.
Lagi-lagi soal kenikmatan hati, kepuasan hidup dan pengabdian yang menjadi pangkal perjalanan.
Begitulah caranya kita memilih keinginan dari ribuan mimpi yang diraba nyata.
CIteureup, 4 Agustus 2015.

Memasuki minggu pertama di bulan Agustus, rasanya semuanya berlalu begitu cepat memisahkan kita dengan Ramadhan, memisahkan kita dengan Lebaran. Memisahkan kita dengan hiruk pikuk percakapan banyak orang. Memasuki bulan pertama di semester akhir semester 9, yang mau tidak mau, November ini harus menjadi bulan terakhirku di tanah Ciputat, membuat setiap pergantian malamnya terasa berjalan sangat lambat dan menegangkan. Setiap pergantian anak tangga, kaki selalu menekan lebih keras, ketikaia semakin tinggi, topangan kaki pun semakin lebih hebat. Begitu juga setiap pergantian fase kehidupan. tekanan yang manusia lalui terasa semakin berat dan semakin terhimpit. Semua orang dipaksa melalui hidup yang seragam fasenya, meskipun tidak dikehendakinya.
Well, fase kehidupan setelah kuliah ini semakin beragam. kita bukan lagi anak pondok ingusan yang bau kencur tak mengerti dunia luar. Kita malah semakin mengerti dunia dan ingin menutup diri dari peredaran. Loh kok begitu? Ribuan pencapaian orang berlalu lalang di sosial media beredar, menyebarkan motivasi, inspirasi, juga menebar kesirikan dan keputus asaan.
Dari ribuan keinginan yang tertular, mungkin harus diredifinisikan lagi apa yang sebenarnya kita butuhkan dan kita mampu lakukan dalam tataran realita namun dngan tidak "biasa-biasa" saja.
Ya. Begitulah setiap ahli tercipta. Mereka memaksimalkan karunia yang Tuhan berikan pada dirinya semaksimal mungkin dengan tidak "biasa-biasa"saja. Bidangnya, tidak bisa kita seragamkan.. Tidak juga bisa kita banding-bandingkan. Yang seharusnya adalah kita kombinasikan.
Hi. Last semester. Girls. little Smart.
Dari empat kata diatas, can you imagine how her future?
Ya, lagi-lagi sosial media menjadi sumber utama, fikiran-fikiran kita yang tidaknyata, sirik menyirik pada orang yang bahkan berkenalan pun sama sekali belum. Well, Be your own-own -own self. Kalau setiap orang bermimpi menjadi seperti orang lain, maka tak akan ada kebenaran.
Ya kebenaran. Menjujuri diri sendiri. memeahami diri sendiri. dan percaya pada diri sendiri. Percaya pada qualitas diri dengan tetap menjunjng tinggi kualitas kehidupan yang lain.
Untuk target kedepan terdekat, mengapa aku lebih tertarik naik haji atau umrh dibanding ke laur negeri, meskipun kesempatanya datang ribuan kali.
Dan lagi-lagi untuk sekarang, mengapa aku lebih tertarik anjuran menikah oleh nenekku dibanding mengejar s2 ke luar negeri meskipun hal itu sangat mampu aku lakukan.
Mengapa aku membayangkan akan lebih memilih mengajar santri-santriku dibanding ikut calon-calon pemilihan pemimpin?
Ya lagi-lagi ini soal kadar kebahagiaan. Bahwa diriku terdidik, hidup bukan untuk terus menerus membahagiakan diri sendiri, tapi mengutamakan keinginan orang lain...
Mungkin terlihat sederhana dan biasa-biasa saja, sangat berbeda dengan moto ku diatas. Mungkin bahkan terlihat sederhana dan tidak bernilai sama sekali.
Tapi teernyata ada yang menyilaukan dibalik topeng itu semua, yakni bersinarnya hati, bersihnya ketulusan untuk memberi, serta keikhlasan dalam mengabdi.
Mengabdi adalah kunci kehidupan dari semua kunci. Pangkal semua kegiatan di dunia ini. Begitu tutur Ibu Nyai padaku.
Lagi-lagi soal kenikmatan hati, kepuasan hidup dan pengabdian yang menjadi pangkal perjalanan.
Begitulah caranya kita memilih keinginan dari ribuan mimpi yang diraba nyata.

Pelajaran pertama
Mungkin sudah satu putaran bumi mengitari pusat tata surya,
Goresan itu membekaskan luka yang masih menyisa tanda,
Mungkin kebesaran diri pun selalu merasa tidak terima untuk disakiti.
Padahal siapalah hamba?
Jangankan menghakimi makhluk-makhlukmu yang menyakiti,
Menghakimi diri sendiri pun rasanya perlu waktu hingga seumur hidupku.
Rasanya baru kemarin kita saling menatap.
Namun kini sudah satu dekade kita saling melupa dan pura-pura lupa.
Lupa pernah mengenal atau lupa pernah saling mencinta.
Itulah drama, melodi kehidupan yang berisi gelap dan terang,
terisi tawa dan tangis, juga cerita dan derita.
Pada siapapun yang pernah terluka.
Mungkin posisi terluka tidak selalu dirgikan.
Yang kurasa adalah,
hatiku ternyata masih terlalu sombong,
karena merasa tak pantas dilukai sesama manusia.
Padahal Siapalah hamba?
Bahkan untuk dilukai oleh puluhan orang pun rasanya hamba masih pantas mendapatkan?
Padahal Siapalah hamba ini?
Bahkan diri sendiri pun tidak lebih baik dari ibadah yang menyakiti.
Padahal siapalah hamba ini?
Bahkan diri begitu merasa paling suci dan paling benar diantara yang lain.
Pelajaran kedua
Pelajaran kedua ini berbalik
Tak disangka kini diri inilah yang menjadi tersangka,
Diri yang sombong inilah yang menyakiti dan mengkhianati,
Hingga ia pergi tanpa permisi
Bahkan meninggalkanku dengan ketidakberdayaan kesalahanku.
Rasa ternyata tak mampu menjelaskan bahkan untuk secuil kesalahpahaman.
Melupakan bahwa kita pernah saling peduli dan saling berbagi.
Mengikis bahwa kita pernah sama-sama berjuang dalam satu tujuan.
Menghapus semua terimakasih dan senyuman-senyuman yang tak henti setiap harinya.
Mencari kawan hidup memang tak semudah mencari kawan arisan.
Kita tidak ditakdirkan untuk bersama hanya untuk satu kepentingan.
Dan yang akan menemani akan terseleksi oleh badai yang menghadang.
Masalah selalu datang menguji keegoisan dan sifat keakuaan?
Masih tebal kah?
Atau sudah lebur menjadi kita?
Kawan hidup itu tidak pernah meninggalkan.
Sekalipun kita sudah tak beraga.
Kawan hidup selalu menerima kelemahan, kesalahan, dan ketidakberdayaan.
Kawan hidup tidak pernah menduakan, mentigakan, atau mengesampingkan.
Mungkin sudah satu putaran bumi mengitari pusat tata surya,
Goresan itu membekaskan luka yang masih menyisa tanda,
Mungkin kebesaran diri pun selalu merasa tidak terima untuk disakiti.
Padahal siapalah hamba?
Jangankan menghakimi makhluk-makhlukmu yang menyakiti,
Menghakimi diri sendiri pun rasanya perlu waktu hingga seumur hidupku.
Rasanya baru kemarin kita saling menatap.
Namun kini sudah satu dekade kita saling melupa dan pura-pura lupa.
Lupa pernah mengenal atau lupa pernah saling mencinta.
Itulah drama, melodi kehidupan yang berisi gelap dan terang,
terisi tawa dan tangis, juga cerita dan derita.
Pada siapapun yang pernah terluka.
Mungkin posisi terluka tidak selalu dirgikan.
Yang kurasa adalah,
hatiku ternyata masih terlalu sombong,
karena merasa tak pantas dilukai sesama manusia.
Padahal Siapalah hamba?
Bahkan untuk dilukai oleh puluhan orang pun rasanya hamba masih pantas mendapatkan?
Padahal Siapalah hamba ini?
Bahkan diri sendiri pun tidak lebih baik dari ibadah yang menyakiti.
Padahal siapalah hamba ini?
Bahkan diri begitu merasa paling suci dan paling benar diantara yang lain.
Pelajaran kedua
Pelajaran kedua ini berbalik
Tak disangka kini diri inilah yang menjadi tersangka,
Diri yang sombong inilah yang menyakiti dan mengkhianati,
Hingga ia pergi tanpa permisi
Bahkan meninggalkanku dengan ketidakberdayaan kesalahanku.
Rasa ternyata tak mampu menjelaskan bahkan untuk secuil kesalahpahaman.
Melupakan bahwa kita pernah saling peduli dan saling berbagi.
Mengikis bahwa kita pernah sama-sama berjuang dalam satu tujuan.
Menghapus semua terimakasih dan senyuman-senyuman yang tak henti setiap harinya.
Mencari kawan hidup memang tak semudah mencari kawan arisan.
Kita tidak ditakdirkan untuk bersama hanya untuk satu kepentingan.
Dan yang akan menemani akan terseleksi oleh badai yang menghadang.
Masalah selalu datang menguji keegoisan dan sifat keakuaan?
Masih tebal kah?
Atau sudah lebur menjadi kita?
Kawan hidup itu tidak pernah meninggalkan.
Sekalipun kita sudah tak beraga.
Kawan hidup selalu menerima kelemahan, kesalahan, dan ketidakberdayaan.
Kawan hidup tidak pernah menduakan, mentigakan, atau mengesampingkan.
Sangat mudah baginya untuk mengabulkan melampaui yang kita bayangkan.
Sangat mudah sekali.
Namun kita seringkali yang ragu dengan kemampuannya.
...
Banyak bekerja. Sedikit berharap.
Banyak berdoa. Sedikit berprasangka.
Ridlo akan jalan yg digariskan,
Mensyukuri setiap kesedihan dan kebahagiaan dengan kesyukuran yang sama.
Pasrah sepasrah pasrahnya.
Pasrah layaknya tidak ada daya sama sekali dari diri.
kecuali bermuara dari pertolonganNya.
....
Aku mampu bermimpi lebih tinggi dari kemarin.
Namun hati rasanya harus terus belajar lebih lapang dari kemarin.
Jika senjata diberikan,ingin kutebas satu persatu, keinginan-keinginan yang tak pernah usai itu.
Namun apalah daya, bahkan diri ini pun masih belum mampu melawannya sendiri.
...
Mengalir seperti air dengan ketenangan yang syahdu.
Berbunyi gemericik sebagai dinamika pengisi tenangnya kesunyian.
Pasrah pada jalan nya yang akan dituju. Terus melaju melewati batu-batu rintangan yang membentang.
Kembali seperti sedia kala meski sempat terkoyak dan tak beraturan.
Sesederhana itu.
Menjalankan semua sebagai amanah (alat) bukan tujuan.
Menjalankan lakon kemanusiaan dengan sebaik2nya peran tanpa berlebihan.
Lalu kembali menjadi jati diri- jati diri sunyi yang mampu melampaui batas pikiran dan dimensi.
Tak ada rasa cemas. Tak ada kekhawatiran tentang besok mau makan apa.
...
Menghirup nafas dengan ketulusan, memaknai setiap gerakan dengan kebatinan.
...
Ramai ternyata dunia sunyi ini. Penghuninya sudah ramai berlomba dalam kesunyian.
Berlomba semakin diam dan semakin sunyi.
...
Banyak yang mengerti tapi sedikit yg bisa menikmati.
Banyak yg menyadari namun tetap sedikit yang mampu mengabdikan diri.
...
Cinta bukanlah kata-kata.
Ia bernafas lewat tindakan dalam diam, dan pembuktian dalam keheningan.
Ia akan meminta pembuktian kita untuk menderita.
Menderita menghilangkan ego keakuan yang begitu besar.
Menyiksa kita untuk memudarkan kepedulian pada diri sendiri yang begitu bingar.
Menganiaya kita untuk lebih mementingkan keinginan kekasih kita dibanding mengabulkan kepentingan jiwa dan nyawanya sekalipun.
Dan sampai tiba waktunya nanti kita sama-sama meninggalkan kefanaan.
Mimpi-mimpi yang membekas adalah yang paling menyedihkan.
Yang paling menganiaya kita dalam rasa sakit yang berkepanjangan.
Yang meleburkan semua keakuan dan pendirian terhadap diri sendiri lenyap menyatu. Bersatu dengan pangkal penciptaan.
Mari merenungi detik-detik kehilangan kita pada bulan lumbung segala pengkabulan.
Mari benahi pakaian yang sobek terkoyak oleh setan kelupaan dan kealpaan yang tak kenal kurungan zaman.
Mari berdoa lagi untuk semua harapan yang kita sandarkan pada pemilik kunci jawaban.
Mari berpasrah lagi pada yang Maha menentukan semua garis ketentuan.
Mari berpasrah lagi.
Mari merebah lagi pada yang mempunyai seribu pintu maaf kasih sayang.
Mari berserah lagi pada satu-satunya sumber kekuatan.
Mari berlemah lagi.
Mari berkeyakinan dan bershalawat lagi pada satu-satunya pemberi jalan cahaya kita menujunya..
Baginda kami tersayang Rasulullah, yang tanpa cahaya dan rahmatnya,
Kita hanya seoonggok daging hidup yang kebingungan mencari jalan pulang.
-
Maaf bathin atas dosa yang mungkin terabai dari maaf lahir,
Maaf bathin atas prasangka-prasangka satu sama lain, yang belum terucap namun sudah menuai noda,
Maaf bathin atas segala maaf lahir yang belum benar-benar tulus diucapkan.
Maaf bathin juga untuk hati ini yang mungkin belum tulus bisa memaafkan lahir bathin.
Ramadhan 221435 h.
Tol Cipali Km 102
Ditengah resahnya teman-temanku yang ingin cepat lulus, di tengah galaunya mereka yang ingin segera menikah, adapula kecemasan-kecemasan pekerjaan yang semakin hari menuntut kami, mahasiswa tingkat akhir semakin pragmatis dan realistis. Tidak terasa sudah 48 bulan aku berada di suasana masa kampus, masa dimana aku bisa merasa paling sombong dengan title mahasiswa. Bulanan masih ditanggung orang tua, kritik sana kemari untuk pemerintah, posisi paling nyaman dari semua fase kehidupan, yang pernah aku jalani. Beberapa bulan yang lalu, ketika sema temanku mulai fokus dengan tugas akhirnya, aku masih bereforia, menikmati masa-masa terakhir sebagai aktifis kampus dengan puluhan acara. Namun kini, tidak berbeda dengan mereka, aku sedang duduk di depan laptop usangku di pojok perpustakaan yang dihuni kurang lebih 2 orang saja.
Rasanya kata " Akhirnya" adalah kata yang paling diinginkan dan dirindukan setiap orang dalam setiap tingkatan. Dulu mondok 3 tahun, detik-detik mendebarkan ada pada UN dan Ujian Nihai, "alhamdulillah lulus juga" muncullah kata-kata itu. 4 tahun setelah hari itu, lagi-lagi kami dihadapkan dengan namanya ujian, dan lagi-lagi menunggu kata sykur dan "akhirnya selesai juga". Ya semanya pasti berlalu. Bisa biasa-biasa saja, bisa luar biasa, bisa menjadi hal yang terlupakan juga. Ini hanya tentang bagaimana kita menghargai setiap detik usaha yang banyak orang sebut sebagai perjuangan.
Mungkin orang melihat sebagai hal lumrah dan biasa, tapi kalau menurut ku setiap hasil ujian adalah pencapaian-pencapaian besar dalam hidup kita yang harus kita beri penghargaan. Memang benar, semua akan berkesan saat kita memaknai itu sebagai perjuangan. Meskipun hasil bukan lah ditangan kita, ekspektasi sering jauh dari realita, hasil kadang beda dengan usaha, namun ingat, paling tidak kita pernah berjuang mati-matian untuk mendapatkannya. Akhirnya dari sana akan terbentuk kesyukuran-kesyukuran yang lain atas hasil yang diberikan Tuhan, meski berbeda.
Cita-cita, Cinta, karir, bisnis, keluarga, mau milih a atau b. Pasti akan melalui masalah juga. Sekilas prolog perjuanganku yang baru kumulai sejak bulan lalu. Bulan Juni ini aku memasuki BAB II skripsiku tentang Yahudi dan HAM. PErkara yang terdengar banyak dibahas, dan terlihat usang. NAmun apadaya, kita tak bisa memaksakan idealisme di detik2 terakhir perkuliahan kita.
Rasanya kata " Akhirnya" adalah kata yang paling diinginkan dan dirindukan setiap orang dalam setiap tingkatan. Dulu mondok 3 tahun, detik-detik mendebarkan ada pada UN dan Ujian Nihai, "alhamdulillah lulus juga" muncullah kata-kata itu. 4 tahun setelah hari itu, lagi-lagi kami dihadapkan dengan namanya ujian, dan lagi-lagi menunggu kata sykur dan "akhirnya selesai juga". Ya semanya pasti berlalu. Bisa biasa-biasa saja, bisa luar biasa, bisa menjadi hal yang terlupakan juga. Ini hanya tentang bagaimana kita menghargai setiap detik usaha yang banyak orang sebut sebagai perjuangan.
Mungkin orang melihat sebagai hal lumrah dan biasa, tapi kalau menurut ku setiap hasil ujian adalah pencapaian-pencapaian besar dalam hidup kita yang harus kita beri penghargaan. Memang benar, semua akan berkesan saat kita memaknai itu sebagai perjuangan. Meskipun hasil bukan lah ditangan kita, ekspektasi sering jauh dari realita, hasil kadang beda dengan usaha, namun ingat, paling tidak kita pernah berjuang mati-matian untuk mendapatkannya. Akhirnya dari sana akan terbentuk kesyukuran-kesyukuran yang lain atas hasil yang diberikan Tuhan, meski berbeda.
Cita-cita, Cinta, karir, bisnis, keluarga, mau milih a atau b. Pasti akan melalui masalah juga. Sekilas prolog perjuanganku yang baru kumulai sejak bulan lalu. Bulan Juni ini aku memasuki BAB II skripsiku tentang Yahudi dan HAM. PErkara yang terdengar banyak dibahas, dan terlihat usang. NAmun apadaya, kita tak bisa memaksakan idealisme di detik2 terakhir perkuliahan kita.
Perah semakin jelek keadaan semakin menarik. Karena itu merupakan ujian yang terbaik bagi seorang salekh.
W : Untuk menjadi sufi, dia tidak harus menjauhkan diri dari kemaksiatan dalam artian sebagai tempat tinggal. Kalau begitu seorang sufi bisa hidup di tengah dunia yang penuh kemaksiatan seperti sekarang ?
SIMBAH : Bisa, kenapa tidak. Wong masuk dolly aja bisa kok. Di sana minum teh sambil duduk-duduk. Lalu merokok, kan tidak masalah.
W : Berarti ada sebagian nilai yang dikorbankan ?
SIMBAH : Nilai yang mana ?
W : Seperti melihat wanita-wanita setengah telanjang ?
SIMBAH : Kalau melihatnya tidak dengan nafsu. Kalau melihatnya dengan penuh kasih sayang, wah sak akene arek iku rek. Kenapa ? Yang membuat zina mata itu kan orang ngacengan. Kalau Anda melihat wanita bukan sebagai wanita, tetapi sebagai hamba Allah,kan tidak masalah. Unsur wanitanya tidak dominan lagi sehingga tidak terangsang sebagai laki-laki, kenapa ? Ndak usah sufilah, orang Islam itu seharusnya menjadi laki-laki hanya dengan istrinya saja. Begitu di luar, dia manusia, hamba Allah.
W : Artinya seorang sufi tidak harus mengasingkan diri ?
SIMBAH : Mengasingkan diri ya boleh, tidak pun ya boleh. Terserah. Kalau jare wong Jowo ada topo nyepi ada topo ngrame. Topo nyepi itu dengan cara hidup di gunug, kalau topo ngrame itu ya srawung di tengah orang banyak.
W : Tapi sebagian orang memahami sufi itu kan harus mengasingkan diri ?
SIMBAH : Ya terserah orang memahami. Kalau mau meneruskan kekeliruannya ya monggo. Kalau mau ingin lebih bener ya monggo. Sufi itu orang yang mampu berjalan menembus air tanpa basah, menembus api tanpa kebakaran. Sufi itu orang yang berani di tengah kemaksiatan tapi dia tidak melakukan maksiat. Itu sufi yang ampuh. Kalau poso karena memang gak ono panganan, yo opo angele wong memang gak ono sing dipangan. Kalau masyarakat sudah banyak yang sholat dan berakhlak, lalu banyak orang sufi ya tidak heran. Tapi kalau di tengah dunia yang penuh kemaksiatan masih ada sufi, itu berarti sufi yang bener-bener.
W : Kalau seorang sufi berada di tengah kemaksiatan, apakah dia tidak mengorbankan sebagian nilainya untuk bisa diterima masyarakat ?
SIMBAH : Sufi tidak punya pamrih untuk diterima orang. Lapo urusane, nggak ada urusannya. Urusan dia cuman satu, diterima Allah. Kalau tidak diterima Allah, baru dia njembling-njembling. Semakin tidak diterima masyarakat, sebenarnya biasanya semakin bagus. Jadi dia tidak boleh gelisah kalau dia dibuang, dicampakkan. Malah itu akan meningkatkan kesufian seseorang. Tasawuf itu bukan karir kebudayaan, bukan karir politik.
W : Kaitannya dengan kewajiban untuk dakwah ?
SIMBAH : Ya itu dakwahnya. Dakwahnya adalah konsistensi untuk lillah ta’ala. Dakwah itu tidak harus ngandani ngene lho rek, koen ojo nyolong. Dakwah yang terbaik adalah uswatun hasanah. Dia sudah memberi teladan yang baik bahwa segala sesuatunya hanya berorientasi untuk Allah. Ngomong gak ngomong nilai dakwahnya sangat tinggi.
W : Banyak tokoh sufi yang menjalani hidup dengan cara menjauhkan diri dari kehidupan dunia, menjadi seorang miskin yang hidup mengembara. Benarkah ?
SIMBAH : Sing ngarani iku sopo. Sufi itu tidak terikat oleh kekayaan dan kemiskinan. Sugih gak sugih gak masalah. Sunan Kalijogo sugih, Sunan Kudus sugih, semua wali sugih kabeh. Sunan Ampel sugih. Yak opo kate gak sugih wong Gusti Allah sayang. Melarato gak kekurangan. Kalaupun melarat yang ditandai dengan rumahnya jelek, tapi dia butuh apa saja bisa datang sendiri kok. Seorang sufi tidak boleh terikat oleh dunia. Kalau terikat dunia, itu namanya hubbudunya. Makanya seorang sufi tidak boleh mencalonkan diri menjadi seorang pemimpin, apalagi seorang presiden.
W : Meskipun itu dipahami dalam kerangka sebagai tanggungjawab untuk membina umat ?
SIMBAH : Seorang sufi tidak boleh mencalonkan diri. Tapi kalau dia diperintah oleh Allah, dia tidak boleh menolak. Di dalam hati seorang sufi tidak boleh ada niat untuk mencalonkan diri. Kalau Allah memerintah Anda untuk menjadi panglima perang, ya tidak bisa menolak.
W : Bagaimana dengan politik ?
SIMBAH : Ndak masalah.
Simbah Ainun Nadjib
W : Untuk menjadi sufi, dia tidak harus menjauhkan diri dari kemaksiatan dalam artian sebagai tempat tinggal. Kalau begitu seorang sufi bisa hidup di tengah dunia yang penuh kemaksiatan seperti sekarang ?
SIMBAH : Bisa, kenapa tidak. Wong masuk dolly aja bisa kok. Di sana minum teh sambil duduk-duduk. Lalu merokok, kan tidak masalah.
W : Berarti ada sebagian nilai yang dikorbankan ?
SIMBAH : Nilai yang mana ?
W : Seperti melihat wanita-wanita setengah telanjang ?
SIMBAH : Kalau melihatnya tidak dengan nafsu. Kalau melihatnya dengan penuh kasih sayang, wah sak akene arek iku rek. Kenapa ? Yang membuat zina mata itu kan orang ngacengan. Kalau Anda melihat wanita bukan sebagai wanita, tetapi sebagai hamba Allah,kan tidak masalah. Unsur wanitanya tidak dominan lagi sehingga tidak terangsang sebagai laki-laki, kenapa ? Ndak usah sufilah, orang Islam itu seharusnya menjadi laki-laki hanya dengan istrinya saja. Begitu di luar, dia manusia, hamba Allah.
W : Artinya seorang sufi tidak harus mengasingkan diri ?
SIMBAH : Mengasingkan diri ya boleh, tidak pun ya boleh. Terserah. Kalau jare wong Jowo ada topo nyepi ada topo ngrame. Topo nyepi itu dengan cara hidup di gunug, kalau topo ngrame itu ya srawung di tengah orang banyak.
W : Tapi sebagian orang memahami sufi itu kan harus mengasingkan diri ?
SIMBAH : Ya terserah orang memahami. Kalau mau meneruskan kekeliruannya ya monggo. Kalau mau ingin lebih bener ya monggo. Sufi itu orang yang mampu berjalan menembus air tanpa basah, menembus api tanpa kebakaran. Sufi itu orang yang berani di tengah kemaksiatan tapi dia tidak melakukan maksiat. Itu sufi yang ampuh. Kalau poso karena memang gak ono panganan, yo opo angele wong memang gak ono sing dipangan. Kalau masyarakat sudah banyak yang sholat dan berakhlak, lalu banyak orang sufi ya tidak heran. Tapi kalau di tengah dunia yang penuh kemaksiatan masih ada sufi, itu berarti sufi yang bener-bener.
W : Kalau seorang sufi berada di tengah kemaksiatan, apakah dia tidak mengorbankan sebagian nilainya untuk bisa diterima masyarakat ?
SIMBAH : Sufi tidak punya pamrih untuk diterima orang. Lapo urusane, nggak ada urusannya. Urusan dia cuman satu, diterima Allah. Kalau tidak diterima Allah, baru dia njembling-njembling. Semakin tidak diterima masyarakat, sebenarnya biasanya semakin bagus. Jadi dia tidak boleh gelisah kalau dia dibuang, dicampakkan. Malah itu akan meningkatkan kesufian seseorang. Tasawuf itu bukan karir kebudayaan, bukan karir politik.
W : Kaitannya dengan kewajiban untuk dakwah ?
SIMBAH : Ya itu dakwahnya. Dakwahnya adalah konsistensi untuk lillah ta’ala. Dakwah itu tidak harus ngandani ngene lho rek, koen ojo nyolong. Dakwah yang terbaik adalah uswatun hasanah. Dia sudah memberi teladan yang baik bahwa segala sesuatunya hanya berorientasi untuk Allah. Ngomong gak ngomong nilai dakwahnya sangat tinggi.
W : Banyak tokoh sufi yang menjalani hidup dengan cara menjauhkan diri dari kehidupan dunia, menjadi seorang miskin yang hidup mengembara. Benarkah ?
SIMBAH : Sing ngarani iku sopo. Sufi itu tidak terikat oleh kekayaan dan kemiskinan. Sugih gak sugih gak masalah. Sunan Kalijogo sugih, Sunan Kudus sugih, semua wali sugih kabeh. Sunan Ampel sugih. Yak opo kate gak sugih wong Gusti Allah sayang. Melarato gak kekurangan. Kalaupun melarat yang ditandai dengan rumahnya jelek, tapi dia butuh apa saja bisa datang sendiri kok. Seorang sufi tidak boleh terikat oleh dunia. Kalau terikat dunia, itu namanya hubbudunya. Makanya seorang sufi tidak boleh mencalonkan diri menjadi seorang pemimpin, apalagi seorang presiden.
W : Meskipun itu dipahami dalam kerangka sebagai tanggungjawab untuk membina umat ?
SIMBAH : Seorang sufi tidak boleh mencalonkan diri. Tapi kalau dia diperintah oleh Allah, dia tidak boleh menolak. Di dalam hati seorang sufi tidak boleh ada niat untuk mencalonkan diri. Kalau Allah memerintah Anda untuk menjadi panglima perang, ya tidak bisa menolak.
W : Bagaimana dengan politik ?
SIMBAH : Ndak masalah.
Simbah Ainun Nadjib
Lama sekali tak membuka dan mengisi halaman hitam ini, rasanay semua isi hati singkat saja tercurah pada sosial sosial media yang hanya berisikan 140 karakter saja. Atau tulisan hanya menjadi kepuasan dinilai orang, disukai orang, dihargai orang dengan berbagai hikmah dan keanehan didalamnya. Namun tidak betah ternyata untukku. Sejak kecil aku suka membaca, membaca tulisan di papan warung, tulisan di papan iklan, hingga dunia mengajarkanku membaca tulisan di layar kecil canggih yang bisa menyampaikan isi hati nenekku nun jauh di ujung pulau jawa ini.
Hows your life cha? Quite fine. SOmetimes we fall, sometimes we fly. We dont have to prepare for flying, but we should prepare the mental when falling. Are falling always wrong? No. Katanya hidup cuma mampir, aku sudah mampir hampi 21 tahun berjalan. Terasa singkat jika melihat apa saja yang sudah kuperbuat, karena belum ada apa-apa. Terasa lama, jika yang teringat adalah dosa-dosa yang sudah banyak diperbuat. Sampai umur di kepala dua ini, aku sellau bermain dengan fikiranku sendiri, tentang keinginan, tentang cara pandang, juga tentang perasaan. Aku tak banyak bertengkar, tapi aku banyak mengecewakan orang. Kontradiksi antara fikiranku yang emrasa sudah benar, seringkali berbeda dnegan pandangan orang dan sebagainya. Sampai aku berkesimpulan bahwa, kita tidak perlu lagi menganggap anggapan orang itu penting.
4 tahun aku kuliah hampir berakhir, 20 mimpi balas dendamku 4 tahun yang lalu hampir 60% tercapai. tidak terduga. Seringkali mereka datang tanpa usaha lebih, danpa diminta lebih, dan tanpa keinginan lebih. Alhamdulillah. CUma itu yang bisa diucap.
Mendekati pergantian fase, atau pengakhiran satu tingkat yaitu masa kuliah, target-target selanjutnya mulai terbayang. Mau seperti apa, ingin jadi apa, harus melakukan apa. Namun diri rasanya masih enggan untuk beranjak dari zona nyaman. fyuh.
Bagiku kesedihanku adalah milikku sendiri. Dan kegembiraanku adalah hak orang banyak. Itulah mengapa, aku tidak suka curhat macam-macam. meluapkan masalah, ataupun mengeluh karena tidak kuat. Ya sebisaku ku minimalisir. Karena media kini semakin canggih membaca berbagai isihati orang. Bahkan hanya lewat satu kata. Mari kita gunakan sosial media untuk saling memeberitahu dan berbagi kebahagiaan, bukan untuk menularkan kesedihan dan penyesalan.
Aku mencintai orang-orang disekelilingku. KArena tanpa mereka aku takkan terbentuk seperti ini. Meskipun ada yang datang dan pergi. Ada yang tinggal ada yang hilang. Ada yang bertahan ada yang meninggalkan. Namun they come for many reason. Semua pertemuan memberi hikmah, karena tanpa kuasaNya kita takkan bertemu.
Aku ingin seperti lintang, yang mencintai Arai dengan segenap jiwanya. Yang membanggakan Mahar dengan seluruh kehidupannya. AKu ingin mencintai teman-temanku lebih dari mencintai diriku sendiri. Karena bersama mereka pula aku berjuang belajar memahami mengapa matahari sering bersinar lama, atau mengapa hujan tak kunjung reda.
Hows your life Cha?
Fine. So far, FIne.
AKu sedang mengetik di pojok ruang perpustakaan gedung anggota dewan bangsa ini. Yang tiap hari ramai, disoroti media menjadi lawakan tv. Seharusnya aku bisa mengetik sesuatu yang lebih berarti ketimbang ini, namun lagi-lagi malas menggerogoti. Cukupkan sudah waktu kerja sampai akhir bulan ini. karena tak sanggup kerja seperti PNS tiap pagi.
Hows your life cha? Quite fine. SOmetimes we fall, sometimes we fly. We dont have to prepare for flying, but we should prepare the mental when falling. Are falling always wrong? No. Katanya hidup cuma mampir, aku sudah mampir hampi 21 tahun berjalan. Terasa singkat jika melihat apa saja yang sudah kuperbuat, karena belum ada apa-apa. Terasa lama, jika yang teringat adalah dosa-dosa yang sudah banyak diperbuat. Sampai umur di kepala dua ini, aku sellau bermain dengan fikiranku sendiri, tentang keinginan, tentang cara pandang, juga tentang perasaan. Aku tak banyak bertengkar, tapi aku banyak mengecewakan orang. Kontradiksi antara fikiranku yang emrasa sudah benar, seringkali berbeda dnegan pandangan orang dan sebagainya. Sampai aku berkesimpulan bahwa, kita tidak perlu lagi menganggap anggapan orang itu penting.
4 tahun aku kuliah hampir berakhir, 20 mimpi balas dendamku 4 tahun yang lalu hampir 60% tercapai. tidak terduga. Seringkali mereka datang tanpa usaha lebih, danpa diminta lebih, dan tanpa keinginan lebih. Alhamdulillah. CUma itu yang bisa diucap.
Mendekati pergantian fase, atau pengakhiran satu tingkat yaitu masa kuliah, target-target selanjutnya mulai terbayang. Mau seperti apa, ingin jadi apa, harus melakukan apa. Namun diri rasanya masih enggan untuk beranjak dari zona nyaman. fyuh.
Bagiku kesedihanku adalah milikku sendiri. Dan kegembiraanku adalah hak orang banyak. Itulah mengapa, aku tidak suka curhat macam-macam. meluapkan masalah, ataupun mengeluh karena tidak kuat. Ya sebisaku ku minimalisir. Karena media kini semakin canggih membaca berbagai isihati orang. Bahkan hanya lewat satu kata. Mari kita gunakan sosial media untuk saling memeberitahu dan berbagi kebahagiaan, bukan untuk menularkan kesedihan dan penyesalan.
Aku mencintai orang-orang disekelilingku. KArena tanpa mereka aku takkan terbentuk seperti ini. Meskipun ada yang datang dan pergi. Ada yang tinggal ada yang hilang. Ada yang bertahan ada yang meninggalkan. Namun they come for many reason. Semua pertemuan memberi hikmah, karena tanpa kuasaNya kita takkan bertemu.
Aku ingin seperti lintang, yang mencintai Arai dengan segenap jiwanya. Yang membanggakan Mahar dengan seluruh kehidupannya. AKu ingin mencintai teman-temanku lebih dari mencintai diriku sendiri. Karena bersama mereka pula aku berjuang belajar memahami mengapa matahari sering bersinar lama, atau mengapa hujan tak kunjung reda.
Hows your life Cha?
Fine. So far, FIne.
AKu sedang mengetik di pojok ruang perpustakaan gedung anggota dewan bangsa ini. Yang tiap hari ramai, disoroti media menjadi lawakan tv. Seharusnya aku bisa mengetik sesuatu yang lebih berarti ketimbang ini, namun lagi-lagi malas menggerogoti. Cukupkan sudah waktu kerja sampai akhir bulan ini. karena tak sanggup kerja seperti PNS tiap pagi.
Allah jadikan dunia ini menjemukan,penuh tipu muslihat, penuh ketidakkonsistenan manusia.
Karena ia ingin kembalikan kita semua untuk menjadikanNya satu-satunya sandaran terkuat untuk hidup. Banyak orang yang percaya lalu kecewa, banyak orang yang teguh lalu kemudian goyah, banyak orang yang kuat kemudian lemah, manusia terus berubah-ubah.
Tak henti.
Entah itu fikiran, kputusan, prinsip, bahkan hati.
Tak ada yang sama sekali bisa kita sandarkan kuat kepada manusia. Apalagi hanya satu manusia. Karena mereka fana. Bisa hilang. Bisa hilang sikapnya, perasaannya, dan kepentingannya juga jasadnya. Begitu dahsyatkah setan berhasil menggoyahkan ribuan hati untuk tidak tenang?
Hingga mudah terombang-ambing oleh godaan-godaan mewah namun menjijikkan.
Kita tidak bisa sama sekali menyebut siapa yang kita bicarakan sekarang.
Karena siapa tahu, penulis sendirilah orangnya.
Hanya dari manusia aku banyak belajar.
Merekalah makhluk paling fleksible di dunia.
Apakah mungkin karena anugrah akal dan nafsunya, sehingga mereka secara bergiliran mendominasi jasad dan ruh.
Bukan kumengajari untuk tidak berprasangka baik terhadap
seseorang. Hanya ingin mencoba mengerti sifat kelabilan manusia yang unik ini.
Makanya benar, tak bisa kita menghakimi orang yang brpeci itu ahli surga dan
berjeans ahli neraka. Karena jeans dan peci pun labil, bingung. Mana sebenarnya
tempat yang layak untuk mereka.
Peci berkata: Hai jeans, kau itu kerjaannya maksiat terus.
Tak pantaslah kau masuk surga.
Jeans menjawab: Sadarlah peci, neraka sudah merindukanmu, tak
ada amal ibadahmu yang terhitung karena hangus dengan riyakmu yang dipakai
kemana-mana.
Peci: setidaknya, tuanku tidak jadi masuk ke diskotik karena
ingat sedang memakaiku.
Jeans: Jangan mudah menghakimi dengan mata dan telinga. Krn
hati tuanku sudah buta dan kebaldengan lampu-lampu gemerlap diskotik. tak tergoda sedikitpun.
Dalam egonya masing-masing pun, keduanya masih taat
menghamba pada Allah dengan jalannya masing-masing.
Jangan bangga dengan ketaatan,karena tak ada yang tahu kapan kita tergoda.
Jangan putus asa dengan kezoliman seseorang karena tak ada yang tahu dia sebenarnya lebih baik dari kita.
Hidup ini tidak berubah, dari kau kecil hingga kau menanjaki ketuaan
Dia tetap keras padamu
Dia tetap membuatmu bekerja keras
Adakah yang patut dipersalahkan?
Tak ada yang patut dipersalahkan,
Hanya bagaimana kita bisa menerima takdir dengan sekuat-kuatnya iman
Dan merajut sabar sepanjang nafas masih diberikan..
Karena mungkin dari sana lah kita bisa benar-benar mengabdi
Meminta dalam 5 kali sehari
Merintih setiap malam
Dan berharap di setiap fajar.
45 tahun terasa sangat singkat,
Banyak tawa dan tangis mengisi lembar demi lembar perjalanan
Entah dimanakah letak sang ujung
Karena pulang hanya kepada ajal
Karena perjuangan tak ada lagi setelah kematian
Lalu siapa sebenarnya yang diperjuangkan mati-matian seumur hidupmu ini?
Ak u yang selalu menghubungimu ketika butuh uang saja?
Adik pertama yang yang selalu memintamu membelikan ini itu?
Atau adik terakhir yang selalu kau sebut sebagai alasanmu bisa tersenyum?
Ingin rasanya kuucap, sudah tak usah berjuang lagi.
Giliran kami yang berjuang.
Tapi kau abai sambil terus berjalan cepat mengejar bis ibukota setiap pagi
Kau memang tak pernah berkata apa-apa
Tapi kau sudah melakukan segalanya.
Selamat ulang tahun yang ke 45.
Pujaanku sedari kecil, Ibu.
Alfatihah..
Dia tetap keras padamu
Dia tetap membuatmu bekerja keras
Adakah yang patut dipersalahkan?
Tak ada yang patut dipersalahkan,
Hanya bagaimana kita bisa menerima takdir dengan sekuat-kuatnya iman
Dan merajut sabar sepanjang nafas masih diberikan..
Karena mungkin dari sana lah kita bisa benar-benar mengabdi
Meminta dalam 5 kali sehari
Merintih setiap malam
Dan berharap di setiap fajar.
45 tahun terasa sangat singkat,
Banyak tawa dan tangis mengisi lembar demi lembar perjalanan
Entah dimanakah letak sang ujung
Karena pulang hanya kepada ajal
Karena perjuangan tak ada lagi setelah kematian
Lalu siapa sebenarnya yang diperjuangkan mati-matian seumur hidupmu ini?
Ak u yang selalu menghubungimu ketika butuh uang saja?
Adik pertama yang yang selalu memintamu membelikan ini itu?
Atau adik terakhir yang selalu kau sebut sebagai alasanmu bisa tersenyum?
Ingin rasanya kuucap, sudah tak usah berjuang lagi.
Giliran kami yang berjuang.
Tapi kau abai sambil terus berjalan cepat mengejar bis ibukota setiap pagi
Kau memang tak pernah berkata apa-apa
Tapi kau sudah melakukan segalanya.
Selamat ulang tahun yang ke 45.
Pujaanku sedari kecil, Ibu.
Alfatihah..
Assalamualaikum,
Alhamdulillah tahun ini
aku diberi kesempatan lagi olehNya untuk menginjakkan kaki di negeri tetangga,
Malaysia. Dalam acara apa tuh Cha? Ada program Mahatir Global Youth Peace
School yang diadakan oleh UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) dan PGPF
(Perdana Global Peace Foundation) milik Tun Mahatir Muhammad (ex-Prime Minister
Malaysia yang paling lama). Acara diadakan selama dua minggu, tapi karena aku
hanya sit-in participant, jadi aku hanya mengikutinya selama 1 minggu, lebih tepatnya
5 hari pertama. Akomodasi ditanggung sendiri. Tiket, hotel. Mungkin sebagian orang berfikir ini gak ada untungnya. Tapi aku yakin, akan dapat banyak pengetahuan sepulangnya dari sana. Hidup ini kita yang menjalani, orang lain yang berkomentar. Selama itu rasional dan di taraf kemampuan. Mengapa tidak dicoba? Kadang kita terlalu terbelenggu dalam tempurung ketakutan. Hingga banyak sekali pertimbangan untuk meloncat atau tidak. Mungkin memang aku tidak seberuntung selected participant yang mendapat berbagai fasilitas. Tapi suatu saat, aku yang akan menjadi pembicara di event-event inernasional itu. nanti pada saatnya. Tekadku dalam hati. :) Kita tak akan pernah bisa mengetahui setinggi apa puncak jika kita tidak pernah mencoba mendaki. Meski semua rombongan mendaki lewat balon udara. Aku yakin, akan berbeda hasilnya kepuasan mendaki lewat jalan setapak dengan berbagai teman hewan yang mengiringi perjalanan.
Dan
alhamdulillahnya lagi, aku punya sahabat cantik fisik batinnya yang mau aku
singgahi selama 7 hari aku mengikuti konferensi. Sebut saja Laila Setyawati
Arifin. Mahasiswi IIUM (International Islamic University Malaysia) tahun ke 3
mumtas, dengan sejuta costumer hijab syar’inya. Sekedar info, dia punya toko
online produktif di bb putihnya. Jadi kalo mau ngerampok dia, cukup ambil bbnya
itu, karena disanalah, semua kontak customernya berada. Anw, customer dia sudah
lintas benua, dari desa, sampai kekota, pulau We sampe manokwari pun sudah ada,
ditambah lagi, pelanggan-pelanggannya di Malaysia hingga Eropa. Tapi mukanya
nggak ada muka-muka tante-tante bisnis centil sist-sist gitu kok. Jaga iffah
banget, jangan sms macem-macem aja apalagi ngaku-ngaku jadi ikhwan taat. Pasti
nggak akan dibales. Umurnya lebih muda 5 hari dariku. Dia lahir 7 Desember,
suka sekali mawar dan merah. Dan satu lagi yang pentiing ssshht. Doakan
sebentar lagi menikah. J
***
16 Februari 2014
Dengan berbagai
pertimbangan untung rugi aku berangkat atau tidak, akhirnya kuputuskan untuk
berangkat. Bahasa jawanya mah bonek (bondo nekat) haha. Aku tidak banyak diberi
uang saku. Bayangkan, 5 hari pertama aku hanya memegang 104 RM atau sebesar
400ribu rupiah. Dengan makan 2 kali sehari dan sesekali aku makan indomie
bersama ela dikamarnya. Namanya juga mahasiswa yang takut membebani orang tua.
Paling-paling nanti pasti bilang juga kalau sudah kepepet. :D Aku berangkat
pukul 01.30 dengan diantar oleh ya seseorang yang baik hati hingga bus,
kemudian diantar lagi oleh Rizka Nurul Amanah. Mungkin aku akan menceritakannya
dihalaman lain, dia teman satu aktifis yang akhir-akhir ini sedang dekat
denganku. Kebetulan dia juga baru pulang dari perjalanan umrohnya, dan kami
menghabiskan perjalanan 2 jam ke bandara dengan seabreg cerita. Jujur aku parno
sekali pergi ke luar negeri sendiri, takut nyasar, takut nggak tau tanda-tanda
dan takut ketinggalan pesawat karena kebingungan. Tapi untungnya aku berangkat
dengan martia, mahasiswi President University yang juga mengikuti acara yang
sama denganku.
5 hari sebelum
keberangkatan, aku sempat hilang motivasi untuk berangkat. Tak ada semangat
sama sekali. Ya semangatku pergi tinggal satu, bertemu Ela. Selesai. Hahaa ada
banyak hal didunia ini yang tak bisa dijawab dengan kata tanya Mengapa kawan.
Coz its comes for no reason. ;)
***
17 February 2013
Ini hari pertamaku dalam
acara MGPS. Dan kau tahu? Butuh waktu 1 jam setengah dari asrama Ela untuk
menuju TKP. Dengan satu kali naik bus, 1 kali naik monorel dan naik taksi.
Untuk hari selanjutnya, aku tinggal naik bus dan monorel, selebihnya jalan
kaki. Untuk kamu yang hobi traveller dan
sudah terbiasa jalan kaki, seperti akan biasa-biasa saja. Tapi tidk denganku.
-__- meski setiap hari harus menuju kampus dengan berjalan sejauh 500 meter,
tapi aku tak pernah se-kram ini setiap malam. Aku berangkat pukul setengah 8,
dan itu pagi sekali karena shubuh disana pukul 6.10 hampir-hampir setengah 7.
Bergaya wanita karir selama 5 hari kupergi shubuh dan pulang petang. Wanita
karir Kuala Lumpur. Hahai.
Hari pertama diisi oleh
Jusuf Kalla, Tun Mahattir Muhammad, rektor UMY, dan dosen Islamic Global
Politik ku di UIN Bapak Din Syamsudin (ia juga ketua umum Muhammadiyahh dan
kini menjabat pula sebagai ketua MUI). Berbicara tentang Bapak Dien ini, beliau
hanya datang 3 kali pertemuan dalam satu semester. Selebihnya diajar oleh
asdosnya Bapak Fuad Fanani yang memberiku surat rekomendasi untuk mengikuti
acara ini,setelah sebelumnya ditolak oleh Bapak Din sendiri. Aku masih ingat
bagaimana beliau bilang,”acara ini terbatas untuk orang tertentu saja, dan
seterusnya” dan keberuntungan mungkin, aku sekarang bisa berada satu ruangan
yang sama dengannya. Selain itu aku juga bersama Bu Debby Lubis. Kepala Jurusan
HI ku yang baru. Beliau juga mengikuti progrm ini. Terlepas dari acara ini, Bu
Debby memang sudah deka denganku, karena pernah mengajar subject Foreign Policy
analysis. Senang rasanya bisa bersama beliau di acara ini. :D
![]() |
| With Bu Debby :) |
Tun Mahattir Muhammad
Ada banyak tokoh besar
yang hadir, rupanya Tun Mahatir Muhammad bukan tokoh biasa-biasa saja. Beliau
adalah Perdana Menteri Malaysia yang menjabat paling lama sejak 1981-2003. Di bawah kepemimpinannya Malaysia mengalami modernisasi yang pesat dan menikmati kemakmuran di segala lapisan masyarakat. dengan PGPF yang didirikan olehnya ini, dia berusaha menciptakan peninggalan yang nanti kelak akan terus mengenangnya. Semacam yayasan perdamaian dunia. Acara ini berisi short course untuk para post-graduate, reseacher, sedikit undergraduate, dan pegawai pemerintahan. Ini acara kali kedua, setelah tahun lalu diadakan di UMY Indonesia. Well, dengan berbangga hati, prof. Din Syamsudin mengabarkan bahwa FISIP UIN Jakarta akan
memberi gelar Doktor Honoris Kausa kepada Tun Mahattir Muhammad ini, karena
usahanya di bidang perdamaian.
“ A journey of thousand
miles begin with the first step. We have aken many steps. Let us march forwrd in
this strunggle to acheve true civilization, to criminalise war.” Tun Dr.
Mahathir Mohamad pada speech opening ceremony MGPS.
Memang benar, berjalan
lebih lambat dan sukar membuat kita melihat lebih banyak. Ada banyak keuntungan
aku menginap di kamar Ela dengan 3 roomatenya yang berkebangsaan Malaysia.
Setelah kuusik-usik.. Ternyata ada juga yang suka dan tidak suka dengan Tun Yang
berbahagie Mahathir Muhammad ini. Salah satunya adalah roomate la yang bernama
Kak Sufi. Katanya, pada masa kepemimpinannya pembangunan infrastruktur Malaysia
memang maju pesat layaknya Indonesia dibawah era Soeharto. namun sayang ia
tidak mendukung pertumbuhan pendidikan Islam di Malaysia. Sehingga banyak
oposisi yang muncul. Ini kudengar dari rakyatnya langsung.
Ya, sejarah selalu berpihak pada yang menang. Dan para rakyat seringkali hanya dibutuhkan untuk alat pemenangan elektoral, bukan menjadi subjek pengabdian.
Karena jadi extra-ordinary peserta,
jadi malah dapet info yg g mainstream. Kenyataan adl saat rakyat yg bicara. Demokrasi sendiri sebenarnya mmg
harus bs membawa maunya rakyat. Mau rakyat sekuler ya sekuler. Maunya islamis
ya hrus islamis. Asal major. Sekali
lg, asal majority. Katak tak bisa menjadi raja para burung. Krn sangat berbeda.
Loh ini negeri apa mmg? Katak apa burung?
***
Ini hari ke 3, dan kakiku
masih terasa pegal. Hari pertama aku berjalan ada hampir 3 km. Hari kedua
berkurang jadi 2km. Dan hari ini
semoga aku bs berjalan hanya 500m.
Hari ini sptnya kelas akan full.
2 hari kemarin aku
masih kikuk naik bis mahasiswa internasional ini. Jadi ada semacam alat
pendeteksi kartu bis para mahassiswa disini untuk membayar
disamping supir. Sebagian bis ada keneknya, sebagian tidak. Selain bisa
membayar dengan menempelkan kartu kredit mereka, bisa juga membayar dengan memasukan
uang ke benda spt tabung, dengan syarat
harus pas, 1ringgit. Sekitar 3800rupiah. Akses transportasi sangat mudah.
Karena bisa
dijangkau dg RLT dan monorel. Ohya, semua bis disini ber-AC. Bayanganku
langsung berbanding dengan metromini
510-mobil sejuta
umat yang selalu
kunaiki saat pp rumah-kampus. Kaleng kuning itu seringkali terbakar panasnya
matahari Indonesia dengan
dipenuhi daging2 bernyawa empuk didalamnya. Perjalanan dari
kp-rambutan-ciputat itu pun tak beda dengan
panggangan roti. Para penumpang yg selalu lebih dr kapasitas keluar satu
persatu dg peluh dan muka kepiting rebus. Harganya lebih mahal. 4000-5000.
Wajah2 di bis ini sangat heterogen. Ada wanita cantik keturunan pakistan didepanku, dibalut pasmina merahnya. Ada juga lelaki putih dg mata seperti bulan sabit sedang sibuk bermain gadget. Disampingnya ada paruh baya india yg sedang mengantuk. Lelaki yang
kuduga asal Sudan sepertinya baru turun dari bis, selebihnya ukhti2 dengan baju
kurung kebangsaan, dan lelaki2 dengan wajah-wajah melayu. Dulu negeri ini yg berbondong-bondong ke
Indonesia. Kini berbalik. 80% international studentnya dari indonesia.
Didepan stasiun RLT ada gedung parkir
5 lantai. Semua org parkir mobilnya disana, dan lebih suka naik kreta/monorel.
Public transport easier.
Kudengar politik malaysia jg ricuh. pemerintah
yg dipimpin dengan golongan kerajaan, byk ditentang oleh barisan oposisi.
Pemerintah negeri ini jg korupsi, tapi pembangunan infrastruktur terlihat sgt
berjalan. Mungkin mereka korupsi yg tau diri. Lagi2 kubandingkan dg Indonesia.
Monorel yg sedari dulu tidak pernah jadi di ibukota. Akses bis panggangan roti
yg masih mendominasi, mungkin ada kemajuan, dr KRL kita.kereta akses sudah
lebih mudah. Ber AC, sistem komputer sudah berjalan. Tinggal menunggu waktu sj
untuk terus memperbaharuinya, dengan mesin pembeli tiket sendiri dan rute yg jelas.
***
to be continue...
Hati itu rumit. Dia punya kebebasan singgah dimanapun ia
mau, meski bukan pada tempatnya.
Ya Tuhan,
Kau dengar setiap doaku dan doanya.
Kau dengar rintihanku dan rintihan mereka.
Mengapa kami seringkali menentang takdirMu?
Tak bisakah kami sesekali sepakat dg takdirMu.
Hingga byk org menjalani bukan berawal dr ketulusan
Hingga byk Hati yg sebenarnya bukan berada pada tempat yg ia
inginkan.
Begitu sulitkah menjadikanMu alasan untuk segala hal?
Untuk mencintai tanpa mengenal sosoknya sekalipun
Untuk membenci tanpa tahu alasannya
Untuk melakukan sesuatu hanya karenaMu?
Mengapa seringkali manusialah yg menjadi alasan setiap
manusia bergerak?
Mengapa dengan alasan2 yg nampak saja lah manusia saling
mencintai?
Mengapa dg alasan2 tidak menyukai kebahagiaan satu sama lain
saja manusia bisa saling benci?
Lalu dimanakah letakMu dikehidupan kami?
Ketika shalat kami hanya berupa senamotot
Ketika bacaan qur'an kami tak berbekas sama sekali
Ketika dakwah kami hanya sekedar pengguran kewajiban kpdMu..
Sungguh, kami masih jauh untuk pantas berada disisiMu..
Sebelum kutulis essai ku yang kesekian kalinya ini, agaknya
ada sesuatu yang mengganjal dihati, untuk diungkapkan di blog.
Tempat ini tak berubah, hangatnya sama seperti saat pertama
ku injakkan kaki di bumi ciputat. Belum aku mengenalnya, aku sudah merasakan
tangannya yang merangkulku hangat. Bisa bertemu
4 orang yang sangat aku sayangi, bisa bertemu keluarga kecil yang penuh
cerita tawa dan perjuangan. Juga yang pasti, aku bisa menemukanMu di tengah
macetnya keinginan-keinginan manusia yang tak terpenuhi.
Aku bertemu seseorang yang menurutku salah satu makhlukMu yang
istimewa setelah dia, yang Kau panggil dahulu tahun lalu. Karena Kau begitu
menyayanginya. Sebelum kuceritakan tentang makhluk yang kutemui disini, aku
ingin sedikit bernostalgia dengannya.
Kala itu hati ku berdebar tak henti dalam ruangan, bukan
karenanya, tapi karena dewan juri yang akan memanggil nomor urutku sebentar
lagi. AKu memang tidak jago membaca kitab kuning, tapi entah kenapa aku bisa
berada di ruangan itu, mengikuti seleksi daerah DKI dalam lomba membaca kitab
tasawuf paling tinggi, Ihya’ Ulumuddin. PAdahal persiapanku, hanyalah kitab
Kifayatul Atqiya’. Bukan main paniknya diriku, ketika membaca awal bab hingga
akhir, hingga terbata-bata. DI sudut ruangan yang sama terlihat lelaki
berkemeja coklat, tidak seperti teman-teman tandingannya yang bersarung dan
berpeci, Ia sama sekali tidak memakainya. Ketika gilirannya, ia pun membaca
karangan terpopuler Imam Ghazali tersebut tanpa jeda, sampai-sampai dewan juri
mengetesnya dua kali, karena tidak percaya kefasihannya. Tubuhnya tidak tinggi,
pakaiannya kemeja rapi, parasnya teduh, nampaknya umurnya pun tidak jauh
dariku. Ketika ia membaca cahayanya pun menyinari, hingga menyilaukanku, aku
benar-benar tertegun tak bergerak mendengarnya membaca. “Subhanallah, pinter
bgt nih orang!” perangainya pun ramah dan tawadlu’. Setelah itu, kami sempat
berkomunikasi cukup lama, via telfon, via pesan fb. Dan aku lama-lama semakin
mengaguminya, menyukainya, dan mulai mendoakannya. Rasanya bagai katak
merindukan bulan. Siapalah diriku ini menginginkannya. TApi, hati ini tak bisa
dibohongi. Ya sepertinya inilah yang disebut orang “cinta pertama” Aih, benarkah.
1 tahun, kami berhubungan dengan baik. Kemudian lost contact karena aku ujian.
aku sempat membelikannya al-quran terjemah bahasa inggris, karena dia tidak
bisa datang kepondokku, jadi kuberikan saja kpd teman pondokku.
Ah, siapapun malaikat itu, aku
tetap mengaguminya. Sesekali kubuka profil fbnya, kulihat, ternyata dia sudah
pergi ke Yaman, mendapatkan beasiswa. “Subhanallah”
lagi-lagi kata itu yang kuucap. Kulihat ia
tidak banyak berinteraksi di media sosial, mungkin aktifitas belajarnya disana
padat. Karena lamanya waktu, aku pun melupakannya pelan-pelan. Sampai kabar itu
pun datang, ia sakit keras dan harus dibawa ke Indonesia. Aku tidak berani
menghubunginya sama sekali karena tidak tahu harus menghubungi siapa. 4 bulan
ia di Indonesia, dan Kau pun memanggilnya dahulu untuk bertemu denganMU.
Di halaman fbnya banyak terkirim
ucapan bela sungkawa, dan point pentingnya adalah, ketika adiknya mempost
beberapa pesan dari syekhnya di Yaman, “MUrid saya yang satu ini adalah
warosatussohabah. Akhlaknya persis dengan sahabat, tidak jauh” sebegitu
mulyakah ia? Innalillahi wainna ilaihi raji’un. Sesungguhnya kami diciptakan
olehMu dan akan kembali kepadaMU.
Aku ingat sekali dalam pesan fb,
yang sekarang sudah hilang karena akunnya di non aktifkan.
“Kaka mau jadi apaa? /“AKu mau jadi Auliya/ Kekasih Allah”“ wah subhanallah” jawabku singkat.
Sama sekali tak terfikir olehku saat itu , betapa sulit menjadi Auliya Allah.
Aku hanya berfikir, kok Cuma jadi itu ya?”
Semoga ia benar-benar tenang
disisiMu dan bisa meraih cita-citanya menjadi kekasihMu. Wahai Engkau yang maha
lembut dan SUci, Karena Rahmatmu lah kami terlahir Islam, karena rahmatMu lah,
aku bisa menyembahmu sekarang dan semoga sampai aku menjemputnya bertemu
denganMu kelak. Dengan rahmatMu pula kau tunjuk para kekasihMu itu. Jadikah aku
salah satu diantara mereka, Wahai Sang MAha Lembut. Izinkan aku bisa
bergabung-dengannya dan kekasih-kekasihMu yang lain.
Khususon Ila ruhi, Muhammad Habibi,
Alfatehah…
Bagaimana jika kita jenuh mencari makna kehidupan di dunia ini. Bagaimana kalau kita jemu melihat dunia ini hanya tarikan-tarikan persoalan senang dan sedih, berhasil dan gagal, mendapat keuntungan dan kebahagian, demikian pula dengan berbagai tekanan kehidupan, hantaman kesedihan dan terpaan penderitaan. Jika kita masih dalam seperti itu, maka kita sungguh tak menyadari bahwa kita terbawa tanpa daya oleh pusaran kehidupan dunia: dari mulai kelahiran, dididik dan dibentuk oleh oranag tua, lingkungan, wajib belajar, harus sekolah, harus bekerja, harus berkeluarga, harus mengejar karir, harus mendidik anak, harus bermanfat bagi sesama, dan seterusnya, hingga mati.
Apkah hanya sampai sini? Apa kehidupan hanya pergantian
episod senang ke sedih, sedih ke senang, baik dan buruk, hingga datangnya
kematian nanti? Terus-teruskah seperti ini? Apakah tidak ada makna yang lebih
hakiki ketimbang menjadi orang kaya, berkuasa dan menggapai kesuksesan, hidup
tenang, mencari penghasilan untuk bekal kehidupan anak-anak? Bukankah itu
berarti bahwa kita juga hanya
mengarahkan anak-anak ku nanti menuju pengulangan-pengulangan yang sama?
Kita tersadr bahwa “agama”
yang selama ini diajarkan padkita hanyalah ritual tanpa batin. Bahwa
seakan-akan agama hanyalah ritual seleksi untuk memasuki surga atau neraka
berdasarkan banyaknya pahala. Apa arti semua ini sebenarnya?
Didektekan kepada kita bahwa Manusia diciptakan untuk
beribadah, tapi beribadah seperti apa? Bisakah kita tekun melaksnakan ibadah
tanpa sedikitpun tahu maknanya? Bagaimana jika Al-quran yang kita baca sehari-hari
sebenarnya malah terasa abstrak, acak dan tak terjangkau maknanya
Ya kita merindukan hakikat. Karena kesanalah kita akan
berujung.
Karena kesanalah pangkal perjalanan ini akan berakhir.
Kadang aku malu, karena sedikit sedikit menangis karena
ujian-ujianNya yang sepele.
Lemah sekali diri karena tak ada daya sabar. Bodoh sekali
diri ini karena kembali lagi mengulang pelajaran. Hati ini semakin busuk
ditarik-tarik oleh penyakit. Meski sudah kulawan mati-matian rasanya
kanker nafsu ini masih tetap bercokol tak mau pindah. Sudah kucongkel
sedemikian keras, tapi tak ada pergeseran. Sudah ku hajar dengan lafadz tahmid
pun dia hanya bergetar sebentar lalu kembali tenang. Masih pantaskah diri ini
melihat MU? Sang hakikat atas hakikat kebenaran? Sang hakikat dari hakikat
kehidupan? Sang pencipta hakikat dari hakikat itu sendiri? Bahkan untuk berjalanpun
aku samar.. entah karena imanku yang semakin rontok, atau jalan yang kian
terjal hingga tak bisa kubayangkan...
Memujamu itu indah, meski dengan tangisan. Memujamu akan
selalu tetap indah meski dengan keringat darah dan telapak kaki yang bernanah
karena jauhnya perjalanan...
30 Januari 2014
2014 benar-benar tahun yang berat.
dimulai dengan hujan hikmah yang setiap hari turun, yang menyebabkan sepertiga ibukota terendam, bahkan mengubah berbagai arah pandangku tentang kehidupan.
perlahan, aku belajar. setiap orang pasti menghargai apa-aa yang dia perjuangkan sendiri. bahkan begitu juga dengan materi. semua warga ibukota setiap hari bekerja untuk memenuhi kehidupannya. bekerja. mencari uang.
Uang. materi satu ini menjadi bulan-bulanan setiap orang. Tidak ada yang tidak mau uang. semua mencari uang. Semua sangat menghargai uang. Apalagi uang yang mereka perjuangkan dengan keringat mereka sendiri. siang malam bekerja demi hal satu ini. Tak jarang banyak yang tertekan dan setres ketika mereka kehilangan hal yang berkaitan dengan uang. kehilangan pekerjaan. kehilangan gadget, kehilangan uang tabungan. Yah, beginilah kerasnya ibukota. setiap orang banyak berusaha. entah itu dengan cara halal/haram, baik/buruk, bersih/kotor. intinya mereka berusaha. Aku sudah pernah bilang sebelumnya bahwa, dalam kebahagiaan seseorang terdapat pengrbanan di sudut dunia lain. Ketika kita dalam kesedihan, paling tidak ada yang tersenyum di sudut dunia lain.
Kebencian itu tidak perlu melupakan. Cukup merubah cara pandang kita terhadap hal itu. manusia itu terlalu dinamis, jika dipercayai 100%.
Bahkan orang yang bersinar bagai matahari pasti pernah mengalami sudut sangat gelap dihidupnya. Beberapa bulan terakhir aku sedang membenci seorang penasehat yang perilakunya tidak menasehati. Aku fikir aku benar. karena setiap manusia harus berprinsip. Tapi ternyata aku yang salah. Aku yang harusnya lebih memahami bahwa penasehat itu bukan malaikat ataupun Tuhan. Yang bisa selalu kita imani kapanpun dan dimanapun. Yang selalu tidak pernah mengecewakan kita sampai kapanpun. Ya aku salah. Semua hal ternyata mudah, saat kita tidak mengubah apapun dari subjeknya. tapi hanya mengubah cara pandang kita.
Bahkan orang yang bersinar bagai matahari pasti pernah mengalami sudut sangat gelap dihidupnya. Beberapa bulan terakhir aku sedang membenci seorang penasehat yang perilakunya tidak menasehati. Aku fikir aku benar. karena setiap manusia harus berprinsip. Tapi ternyata aku yang salah. Aku yang harusnya lebih memahami bahwa penasehat itu bukan malaikat ataupun Tuhan. Yang bisa selalu kita imani kapanpun dan dimanapun. Yang selalu tidak pernah mengecewakan kita sampai kapanpun. Ya aku salah. Semua hal ternyata mudah, saat kita tidak mengubah apapun dari subjeknya. tapi hanya mengubah cara pandang kita.
Cak nun pernah berkata, shadaqoh itu bukan untuk mencari rizki, tapi untuk berbagi rizki.
Di postingan blog ku tahun lalu yang berjudul "Must try at home" aku menjelaskan apa saja balasan orang bersedekah. apa saja keuntungan bersedakah, dan sangat bersemangat mengajak untuk banyak bersedakah. Setelah kufikir-fikir, itu harus direvisi. Mungkin ajakan-ajakan yang disampaikan oleh banyak trainer dan pemuka agama, bisa begitu manjur mengajak banyak masyarakat untuk bersedekah. NAmun, ada hal yang hilang. Orientasi tujuan, membuat setiap orang terbiaskan oleh tujuan, tanpa mengerti hakikat shadaqah itu sendiri. Contohnya, ketika seseorang bershadaqah karena tergiur dengan balasan 10 kali lipat. otomatis setelah shadaqah dia akan mnunggu balasan tersebut. Benarkah niat itu? sudah murnikah karenaNya? begitu juga dengan amal. Shalat, puasa, zakat, berdakwah. Ketika orientasi kita syurga dan takut neraka. YA hanya itu yang kita dapat. Bukan Al-Haq yang sudah merawat kita tanpa bosan ini. Fatalnya, adalah ketika kita terlalu berorientasi pada tujuan. ketika kita tidak mendapatkan tujuan itu, kembali amla yang dpersalahkan.
"GUe udah sholat dhuha, kok, dompet gue malah ilang?" "gue udah shadaqah 100 ribu, kok g dapet balesan 1 juta juga?" "gue males jadi orang baik lagi, kalo toh, sial-sial juga hidup gue" "gue udah pasang status puasa senin kamis, kok tetep aja ga ada yang tertarik sama gue""
Ini namanya masih bergantung pada amal. Kita berbuat baik, karena ingin selamat, kita beribadah karena ingin disebut alim, kita berbagi hanya untuk berarap mendapat balasan. Inilah susahnya memurnikan hati. Ketika kenyataan tidak sesuai, kita makin sering menyalahkanNya, ketimbang menyesali diri sendiri. Aku sendiri masih busuk sekali dalam hal ini. Tidak bergantung kepada amal. Tapi bergantung kepadaNya. Sangat sulit, tapi harus diperjuangkan. Wajib.
Tetap khusnuzon, karena cuma dia yang tidak pernah mengecewakan kita.
Tetap tenang, karena masih banyak orang yang lebih menderita ketimbang cobaan kita.
Tetap sabar, karena kehilangan memang hakikat yang harus dipahami dalam bulir-bulir kehidupan.
Ketika Kau lamar aku satu persatu dengan mencabut nikmat ini, bantu aku untuk mengerti dan memahami, juga mencocokkan semua yang kuingin sesuai dengan keinginanMu.
Kita bertuhan, itu dengan bersosial. mengerti masalah orang, membantu menyelesaikan, dan tidak perhitungan. Selesai.
Ciputat yang berkabut,
17 Januari 2014
للهم صلِ على محمد وآل محمد كما صليت على ابراهيم وآل ابراهيم وبارك على محمد وآل محمد كما باركت على ابراهيم وآل ابراهيم
2014.
Semoga dijauhkan dari perkataan yg tidak dilakukan.
nasehat yang tidak meneladani.
Dijauhkan dari putih yang ternyata nanah.
Dijauhkan dari kemunafikan yang tersembunyi.
Dijauhkan dari menjilat ludah kembali.
Sepertinya penghuni langit mulai marah
Banyak mendung yang tak memberi hujan
Layaknya mentari tak beri panas
Seperti hadirnya harapan tanpa kepastian
Ketika hujan mulai mengajarimu arti perubahan. Perpindahan. Dan melepas.
Perubahan dari hangat ke dingin.
Perpindahan dari puncak ke jurang.
Juga melepas kepergian setiap elemen kepemilikan rinai..
Malam ini pandanganku kembali kosong, bertahan lama pada arah yg tetap sama.
Terbaca sebuah rindu yg lelah kemudian menyerah.
Rindu ini terlalu kuat, ia mengingatmu dalam lirih,
menyambangimu dalam doa..
Lagu mengalun bersama sajakku yang melantun saling bersahutan..
Bersahutan bersama dg memori dinginnya malam bersamamu..
tempo lagu yang semakin cepat mengingatkan cepatnya detak jantungku saat itu
Kau menjelma malam dalam diam dan berkata, “Kau, sang pemeluk bulan”
aku hanya bisa tersenyum, dan berharap hujan semakin deras..
Nampaknya bulan dan bintang memang enggan keluar..
mereka menertawakanku yang tenggelam dalam rayuan dan kegamangan
Terlalu tinggi ku gantungkan potret diri.
Ah sudahlah..
Kuharap hujan habis dalam malam
Karena setiap fajar aku akan kembali menjadi anak-anak revolusi yang selalu sadar..
hidup bukanlah permainan
Ya, sekembalinya fajar, mentari akan bersiap mengiringi langkah-langkah perubahan
Perubahan yang menunjukkan satu arah, Cita. Bukan kamu.
...
Senja di Ciputat, 12. 12. 2013
(Loubna-D'cha)
Di re-post juga di http://rizkanurula.wordpress.com/2013/12/14/aku-dan-hujan/
Banyak mendung yang tak memberi hujan
Layaknya mentari tak beri panas
Seperti hadirnya harapan tanpa kepastian
Ketika hujan mulai mengajarimu arti perubahan. Perpindahan. Dan melepas.
Perubahan dari hangat ke dingin.
Perpindahan dari puncak ke jurang.
Juga melepas kepergian setiap elemen kepemilikan rinai..
Malam ini pandanganku kembali kosong, bertahan lama pada arah yg tetap sama.
Terbaca sebuah rindu yg lelah kemudian menyerah.
Rindu ini terlalu kuat, ia mengingatmu dalam lirih,
menyambangimu dalam doa..
Lagu mengalun bersama sajakku yang melantun saling bersahutan..
Bersahutan bersama dg memori dinginnya malam bersamamu..
tempo lagu yang semakin cepat mengingatkan cepatnya detak jantungku saat itu
Kau menjelma malam dalam diam dan berkata, “Kau, sang pemeluk bulan”
aku hanya bisa tersenyum, dan berharap hujan semakin deras..
Nampaknya bulan dan bintang memang enggan keluar..
mereka menertawakanku yang tenggelam dalam rayuan dan kegamangan
Terlalu tinggi ku gantungkan potret diri.
Ah sudahlah..
Kuharap hujan habis dalam malam
Karena setiap fajar aku akan kembali menjadi anak-anak revolusi yang selalu sadar..
hidup bukanlah permainan
Ya, sekembalinya fajar, mentari akan bersiap mengiringi langkah-langkah perubahan
Perubahan yang menunjukkan satu arah, Cita. Bukan kamu.
...
Senja di Ciputat, 12. 12. 2013
(Loubna-D'cha)
Di re-post juga di http://rizkanurula.wordpress.com/2013/12/14/aku-dan-hujan/
Malam hari adalah salah satu keagungan Tuhan. Dalam sunyi, basanya manusia bertemu dengan kandungan-kandungan yang baik dalam nilai hidup. Malam hari biasanya menawarkan rumus kearifan dan keinsafan ilahiyah.
"Idza dzukirallahu wajilat qulubuhum wa idza tuliyat 'alaihim ayatuhu zadat hum imanan.. "
"Idza dzukirallahu wajilat qulubuhum wa idza tuliyat 'alaihim ayatuhu zadat hum imanan.. "
Bila disebut nama Allah, tergetarlah hati mereka, dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka.
Markesot sendiri menangis. meneteskan air matanya. meskipun wajahnya tersenyum.
Begitu usai berzikir bersama sehabis shalat Isya, Markesot berkata kepada para sahabatnya, "Kalian lihat itu dijalan ada Pakde, penjual nasi goreng. Berbicaralah kalian tentang dia.."
Suasana hening. Tak seorang pun membuka mulutnya. Mungkin karena belum mengerti persis apa yang dimaksud markesot yang kali ini memang berlaku agak serius.
"Kenapa tidak ada yang bicara?" ulangnya.
Suasana tetap diam.
"Setiap saat kalian adalah anak-anak muda yang riuh rendah berbicara, bahkan tentang hal-hal besar: politik, pemerintahan, birokrasi, hadits palsu, kemerosotan moral umat, Pancasila..."
Tetap belum ada suara.
"Apa yang dilakukan oleh Pakde si Penjual nasi goreng itu?"
"Menjual kacang.." jawab seorang pemuda.
"Ya. Apa itu?"
"Mencari nafkah..."
"Bagus. Kapan saja dia mencari Nafkah?"
"Tiap malam..."
"Berapa lama tiap malam dia mencari nafkah?"
"Hampir sepanjang malam"
"kemana saja dia sepanjang malam?"
"Keliling kampung-kampung..."
Untuk siapa dia menari nafkah?"
"Untuk anak-istrinya..", kemudian kata-kata Markesot tumpah seperti terjun, "Mencari nafkah untuk anak istri, berjalan menelusuri gang-gang kampung demi kampung. Siapakah diantara kalian yang mau melakukan hal seperti itu?"
Tak ada suara.
"Kalian semua ingin jadi orang besar. Ingin jadi pejabat atau setidak-tidaknya pegawai. Kalian semua ingin mencari uang dengan cara segamang-gampangnya untuk memperoleh hasil sebanyak-banyaknya. Kalian dengan sengaja mencari tempat yang kalian tahu akan menjebak kalian untuk melakukan korupsi-korupsi...
"Kalian pandaanglah wajah Pakde si penjual nasi goreng itu. Kalau dia maling, tak akan mau dia repot-repot semalam-malaman keliling kampung. Dia berjualan nasi goreng karena ingin makan dan memakani mulut anak-istrinya dengan keringat sendiri. Kalian pikirkanlah, apakah yang kalian minum, makan, selama ini adalah hasil keringat yang sah dari orang tua kalian?.
"Kalian renungkanlah siapa manusia yang lebih mulia dibanding orang yang hanya bersedia memakan hasil keringatnya sendiri, dan untuk itu dia bersedia bersusah payah berjualan sepanjang malammeskipun hanya akan memperoleh hasil 10/20 ribu rupiah.??
Pakde itu berjualan justru ketika malam tiba. Justru ketika orang berangkat beristirahat dan berangkat tidur. Dia berjualan dengan kaki tertatih-tatih, karena memiliki tawakal dan taqwa yang sangat tinggi terhadap kebaikan Allah. Dia sangat percaya bahwa Allah Maha adil. sehingga dipilihnya pekerjaan yang setiap dari kalian membayangkan pun tak mau. Dia tak memilih menjadi maling, perampok, atau pencopet. Dia adalah manusia yang mulia dihadapan Allah.
"Pernahkah kalian bercita-cita memperoleh kemuliaan seperti itu? Yang lebih kalian cari bukanlah kebaikan, melaikan kekayaan. Yang lebih kalian buru bukanlah keluhuran, melainkan keenakan, kenyamanan. Dan pada posisi seperti itu, kalian selalu merasa tinggi derajat kalian dibanding dengan orang-orang kecil yang berjualan bakso, nasi goreng, kacang rebus,..
"Lihatlah pakde, Kenapa dia tidak sakit reumatik? Berapa kali dia masuk angin oleh angin malam? Kenapa dia jauh lebih sehat dibanding dengan famili-famili kalian yang kaya-kaya, yang macam-macam saja penyakitnya dan berplastik-plastik obatnya.
"Anak-anakku renungkanlah. Coba hitunglah kehidupan disekitarmu. Hitung pulalah dirimu sendiri. Temukan kemuliaan disekitarmu. Belajarlah membedakan mana kemuliaan dan mana kehinaan. Amatilah mana yang luhur, amna yang hina. Mana yang tinggi derajatnya dan mana yang rendah. Pakailah mata Allah sebagai ukuran..."
Suasana semakin hening.





_large.jpg)












