Perah semakin jelek keadaan semakin menarik. Karena itu merupakan ujian yang terbaik bagi seorang salekh.

W : Untuk menjadi sufi, dia tidak harus menjauhkan diri dari kemaksiatan dalam artian sebagai tempat tinggal. Kalau begitu seorang sufi bisa hidup di tengah dunia yang penuh kemaksiatan seperti sekarang ?

SIMBAH : Bisa, kenapa tidak. Wong masuk dolly aja bisa kok. Di sana minum teh sambil duduk-duduk. Lalu merokok, kan tidak masalah.

W : Berarti ada sebagian nilai yang dikorbankan ?

SIMBAH : Nilai yang mana ?

W : Seperti melihat wanita-wanita setengah telanjang ?

SIMBAH : Kalau melihatnya tidak dengan nafsu. Kalau melihatnya dengan penuh kasih sayang, wah sak akene arek iku rek. Kenapa ? Yang membuat zina mata itu kan orang ngacengan. Kalau Anda melihat wanita bukan sebagai wanita, tetapi sebagai hamba Allah,kan tidak masalah. Unsur wanitanya tidak dominan lagi sehingga tidak terangsang sebagai laki-laki, kenapa ? Ndak usah sufilah, orang Islam itu seharusnya menjadi laki-laki hanya dengan istrinya saja. Begitu di luar, dia manusia, hamba Allah.

W : Artinya seorang sufi tidak harus mengasingkan diri ?

SIMBAH : Mengasingkan diri ya boleh, tidak pun ya boleh. Terserah. Kalau jare wong Jowo ada topo nyepi ada topo ngrame. Topo nyepi itu dengan cara hidup di gunug, kalau topo ngrame itu ya srawung di tengah orang banyak.

W : Tapi sebagian orang memahami sufi itu kan harus mengasingkan diri ?

SIMBAH : Ya terserah orang memahami. Kalau mau meneruskan kekeliruannya ya monggo. Kalau mau ingin lebih bener ya monggo. Sufi itu orang yang mampu berjalan menembus air tanpa basah, menembus api tanpa kebakaran. Sufi itu orang yang berani di tengah kemaksiatan tapi dia tidak melakukan maksiat. Itu sufi yang ampuh. Kalau poso karena memang gak ono panganan, yo opo angele wong memang gak ono sing dipangan. Kalau masyarakat sudah banyak yang sholat dan berakhlak, lalu banyak orang sufi ya tidak heran. Tapi kalau di tengah dunia yang penuh kemaksiatan masih ada sufi, itu berarti sufi yang bener-bener.

W : Kalau seorang sufi berada di tengah kemaksiatan, apakah dia tidak mengorbankan sebagian nilainya untuk bisa diterima masyarakat ?

SIMBAH : Sufi tidak punya pamrih untuk diterima orang. Lapo urusane, nggak ada urusannya. Urusan dia cuman satu, diterima Allah. Kalau tidak diterima Allah, baru dia njembling-njembling. Semakin tidak diterima masyarakat, sebenarnya biasanya semakin bagus. Jadi dia tidak boleh gelisah kalau dia dibuang, dicampakkan. Malah itu akan meningkatkan kesufian seseorang. Tasawuf itu bukan karir kebudayaan, bukan karir politik.

W : Kaitannya dengan kewajiban untuk dakwah ?

SIMBAH : Ya itu dakwahnya. Dakwahnya adalah konsistensi untuk lillah ta’ala. Dakwah itu tidak harus ngandani ngene lho rek, koen ojo nyolong. Dakwah yang terbaik adalah uswatun hasanah. Dia sudah memberi teladan yang baik bahwa segala sesuatunya hanya berorientasi untuk Allah. Ngomong gak ngomong nilai dakwahnya sangat tinggi.

W : Banyak tokoh sufi yang menjalani hidup dengan cara menjauhkan diri dari kehidupan dunia, menjadi seorang miskin yang hidup mengembara. Benarkah ?

SIMBAH : Sing ngarani iku sopo. Sufi itu tidak terikat oleh kekayaan dan kemiskinan. Sugih gak sugih gak masalah. Sunan Kalijogo sugih, Sunan Kudus sugih, semua wali sugih kabeh. Sunan Ampel sugih. Yak opo kate gak sugih wong Gusti Allah sayang. Melarato gak kekurangan. Kalaupun melarat yang ditandai dengan rumahnya jelek, tapi dia butuh apa saja bisa datang sendiri kok. Seorang sufi tidak boleh terikat oleh dunia. Kalau terikat dunia, itu namanya hubbudunya. Makanya seorang sufi tidak boleh mencalonkan diri menjadi seorang pemimpin, apalagi seorang presiden.

W : Meskipun itu dipahami dalam kerangka sebagai tanggungjawab untuk membina umat ?

SIMBAH : Seorang sufi tidak boleh mencalonkan diri. Tapi kalau dia diperintah oleh Allah, dia tidak boleh menolak. Di dalam hati seorang sufi tidak boleh ada niat untuk mencalonkan diri. Kalau Allah memerintah Anda untuk menjadi panglima perang, ya tidak bisa menolak.

W : Bagaimana dengan politik ?

SIMBAH : Ndak masalah.

Simbah Ainun Nadjib

Reaksi: 

Leave a Reply